Contribution to Fisheries Advances

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan perikanan di tanah air.
Non aktifkan Ad Block dan aplikasi sejenisnya agar iklan - sumber dana blog ini - bisa tampil.
Terima kasih atas kunjungan dan dukungan Anda

Selasa, 22 Mei 2012

Distribusi Vegetasi, Penyebaran Benih dan Kerusakan Daun Pohon Bakau

Arsip Cofa No. C 045


Struktur dan Distribusi Spesies Tumbuhan Bakau
Azariah et al. (1992) mempelajari struktur dan distribusi spesies di hutan bakau Coringa, Delta Godavari, Andhra Pradesh, India. Komunitas hutan bakau ini terdiri dari 13 spesies tumbuhan bakau dan tumbuhan lain. Tiga tumbuhan bakau dominan berikut, Avicennia marina, Excoecaria agallocha dan Sonneratia apetala ditemukan di tebing kanal utama Sungai Godavari yang melintasi hutan. Daerah di belakang jalur yang ditumbuhi Acanthus ilicifolius dan Myriostachya wightiana biasanya dikoloni oleh Excoecaria agallocha dan Avicennia marina. Zona ini disebut zona Avicennia dan Excoecaria. Di dekat zona ini, spesies seperti Aegiceras corniculatum dan A. officinalis merupakan spesies yang umum. Di hamparan tanah liat tumbuh Suaeda maritima. Di daerah yang tinggi, sehingga terhindar dari air pasang selama periode pasang purnama, spesies seperti Myriostachya wightiana dan Acanthus tumbuh di kedua tebing kanal. Analisis keragaman spesies menunjukkan dengan pasti kecenderungan distribusi tumbuhan bakau dari mulut estuaria ke perairan darat. Kadar gas pencemar seperti sulfur dioksida (SO2), oksida-oksida nitrogen (NOx), amonia (NH3) dan partikel tersuspensi ada di dalam batas-batas legal.

Hubungan Sifat Tanah Hutan Mangrove dan Vegetasinya
Macnae (1968) menyatakan bahwa banyak literatur yang membahas hubungan antara sifat tanah hutan bakau dan vegetasi yang tumbuh di dalamnya. Pada transek dari daerah mangrove yang menghadap laut sampai ke hutan gambut yang telah berkembang penuh, ada peralihan dari tanah mineral yang hampir murni di daerah avicennia yang mengarah ke laut, sampai tanah busuk (dengan kandungan bahan humus sampai 65 %) yang mendukung asosiasi yang terdiri dari Nypa fructicans, Avicennia officinalis, Acanthus ilicifolius, Sonneratia caseolaris, Acrostichum sp. dan dengan Bruguiera sexangula sebagai pohon dominan, dan akhirnya sampai ke tanah gambut dengan kandungan bahan organik sekitar 95 %. Yang terakhir ini hanya terdapat di daerah tepat di atas garis air tinggi. Bruguiera gymnorhyza bisa dominan di hutan bakau bila tanahnya berat dan basah; dan di tanah seperti ini mungkin terdapat pohon-pohon tua Rhizophora apiculata, Xylocarpus moluccensis Roem. serta Intsia bijuga (Colebr.) O. Kunz. yang tumbuh baik; tumbuhan perambat dan juga berbagai epifit umum terdapat. Avicennia officinalis L. adalah umum, kadang-kadang melimpah pada kondisi ini di Asia Tenggara dari Delta Indus sampai New Guinea (Papua). Di Afrika Timur, Avicennia marina meluas sampai ke daerah seperti ini. Pada garis yang dicapai oleh pasang purnama normal, Xylocarpus granatum dan Lumnitzera littorea Voight membentuk pohon besar; Bruguiera parviflora W & A serta Bruguiera cylindrica mungkin membentuk tegakan padat sedangkan Bruguiera sexangula Poir. mungkin hidup bersama dengan Bruguiera cylindrica; Avicennia lanata Ridl. juga menjadi ciri khas daerah ini di pantai timur Semenanjung Malaka dan di pulau Singapura. Di sini hampir selalu ada paku-pakuan yang tumbuh di bagian bawah, Acrostichum speciosum Wild. yang pendek tumbuh di bawah naungan tumbuhan lain, sedangkan Acrostichum aureum yang lebih tinggi tumbuh di luar naungan di mana ia bisa tegak setinggi 3 meter. Bila tanahnya tidak kokoh, Rhizophora apiculata akan tumbuh dominan.

Macnae (1968), berdasarkan studi literatur, menambahkan bahwa di hutan bakau yang tanahnya kokoh dengan tebing-tebing kapur dan permukaannya sangat tidak rata, kadang-kadang tumbuh subur pohon Bruguiera gymnorhiza, Lumnitzera littorea, Xylocarpus granatum, Heritiera littoralis, Ficus microcarpa L.f., Terminalia catappa L. dan Barringtonia racemosa. Di bawahnya tumbuh semak Scyphiphora hydrophyllacea Gaerth. dan Acrostichum sp. Variasi dari asosiasi ini berkembang di tanah yang kokoh dengan permukaan tidak rata. Lapisan pohon ini terdiri dari Xylocarpus granatum, Heritiera littoralis, Ficus retusa, Intsia bijuga dengan Nypa di jurang berlumpur. Di bawahnya tumbuh semak Derris heterophylla (Willd.) Back. dan Acrostichum sp. Variasi lain ditemukan di tanah yang agak kokoh dengan lapisan pohon yang meliputi Bruguiera sexangula, Dolichandrone spathacea (L.f) K. Schum., Barringtonia racemosa, Terminalia catappa, Ficus microcarpa, Lagerstroemia speciosa Pers., Corypha utan Lam. dan sepanjang teluk tumbuh Xylocarpus granatum serta Oncosperma filamentosum Bl. Tumbuh rapat di bawahnya adalah Acanthus ilicifolius L., Derris heterophylla, Acrostichum sp. dan Crinum sp. Semua asosiasi tumbuhan bakau ini tampaknya ditentukan oleh sifat tanah dan, selain itu, menunjukkan peningkatan ketergantungan terhadap air tawar.

Vegetasi Mangrove : Asosiasi Nipah
Macnae (1968) menyatakan bahwa asosiasi nipah menyumbangkan salah satu ciri paling penting, dan paling menyolok bila dilihat dari udara, yang ditunjukkan hutan bakau di seluruh daerah Indo-Malaysia dan Asia Tenggara. Ia menempati daerah yang luas, seringkali sangat luas, yang digenangi oleh pasang purnama tertinggi. Ciri yang menonjol pada daerah yang ditempati asosiasi Nypa ini adalah banyaknya gundukan tanah tinggi (sampai setinggi 3 meter) yang dibuat oleh kepiting Thalassina anomala, dan gundukan tanah ini banyak mempengaruhi sifat-sifat asosiasi tersebut. Bila nipah sangat rapat maka hanya ada sedikit kemungkinan bagi tumbuhan lain untuk hidup karena tumbuhan lain ini akan ternaungi. Di daerah seperti ini, nipah membentuk dinding rapat sepanjang tebing sungai atau teluk. Kadang-kadang pohon Heritiera littoralis, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorhiza atau Lumnitzera littorea tumbuh menyolok di zona yang lebih tinggi. Excoecaria agallocha, Bruguiera cylindrica dan Sonneratia caseolaris sering tumbuh bersama. Hibiscus tiliaceus dan spesies Pandanus juga hidup di tempat yang airnya hampir tawar.

Penyebaran Benih Pohon Bakau Dari Udara
Lahiri (1991) melaporkan upaya menyebarkan benih pohon bakau (Avicennia dan Sonneratia) dari udara selama bulan Agustus - September 1989. Di hamparan lumpur di Sundarbans (Benggala Barat) telah diperoleh tingkat keberhasilan 50 %. Pada tahun berikutnya upaya serupa dengan benih yang lebih baik memberikan hasil yang lebih memuaskan. Metode ini membuka peluang untuk melakukan penghutanan skala besar di daerah-daerah gundul dalam waktu yang singkat.

Kerusakan Daun Pohon Bakau Akibat Herbivora
Kathiresan (1992) mengamati aktivitas herbivora pemakan daun tumbuhan bakau di hutan mangrove Pichavaram, India Tenggara. Aktivitas tersebut terlihat pada 10 spesies pohon bakau. Herbivora merusak sekitar 1 sampai 12 % luas daun. Api-api (Avicennia sp.) mengalami kerusakan parah; Ceriops decandra, Excoecaria agallocha dan Rhizophora lamarckii menerima pengaruh paling kecil oleh aktivitas makan-daun ini. Kerusakan daun menunjukkan korelasi negatif dengan kadar tanin dalam daun.

Daftar Pustaka :

ARTIKEL TERKAIT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar