Contribution to Fisheries Advances

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan perikanan di tanah air.
Non aktifkan Ad Block dan aplikasi sejenisnya agar iklan - sumber dana blog ini - bisa tampil.
Terima kasih atas kunjungan dan dukungan Anda

Selasa, 22 Mei 2012

Ikan Demersal : Habitat, Distribusi, Kelimpahan dan Biologi

Arsip Cofa No. C 042


Ikan Demersal di Paparan Benua Tropis
Longhurst dan Pauly (1987) menyatakan bahwa ada banyak genus ikan Clupeiformes tropis, tidak hanya dalam ekosistem pelagis tetapi juga dalam ekosistem bentik-demersal di paparan benua. Upaya untuk memisahkan secara formal antara ikan pelagis dan ikan bento-pelagis adalah tidak benar-benar memuaskan karena clupeidae dan engraulidae sangat sering tertangkap oleh jaring trawl-dasar di laut tropis : beberapa spesies Ilisha, Pellona, Pellonula, Opisthonema, Opisthopterus, Sardinella dan Stolephorus mendominasi komponen sumber daya ikan demersal tropis ini. Bersama dengan ikan-ikan clupeidae tersebut, terdapat pula dua kelompok pemangsa bento-pelagis mirip-belut : pike eel (Muraenesocidae) dengan 7 spesies dari 3 genus terutama di Indo-Pasifik, dan kelompok ikan layur (Trichiuridae) dengan 17 spesies dari 6 genus ikan yang berwarna keperakan dengan bentuk badan sangat memanjang di semua samudra tropis. Dua kelompok ikan Scorpaeniformes terdapat melimpah di perairan tropis, biasanya di dasar berpasir : Triglidae yang mencakup 14 genus ikan pemakan-bentik, seringkali memiliki alat indera berupa jari-jari depan sirip dada, dan beberapa di antaranya (seperti Trigla, Lepidotrigla, Prionotus dll.) hidup di ketiga samudra tropis; Platycephalidae meliputi 22 genus yang saat ini hanya ada di Indo-Pasifik, di mana beberapa di antaranya (misal Playcephalus) mungkin sangat melimpah.

Longhurst dan Pauly (1987) menyatakan bahwa satu famili ikan lele siluroidea, yang kebanyakan menghuni perairan tawar, terdapat di paparan benua tropis, di mana individu-individu ikan ini sering melimpah; banyak genus dan spesies lele laut (Ariidae, Tachysuridae) terdapat di perairan dekat-pantai, dan banyak spesies yang hidup di estuaria. Arius, Bagre dan Tachysurus merupakan genus-genus dominan kelompok ini : banyak, atau kebanyakan, spesies-spesies tersebut berwarna kemerahan atau coklat tua dan memiliki duri yang berbahaya sebagai jari-jari pertama sirip dada dan sirip punggung. Lele kecil dari genus Plotosus mungkin juga sangat melimpah di dan sekitar daerah berkarang. Tiga famili ikan Myctophiformes meliputi spesies-spesies ikan yang melimpah di paparan benua tropis dan merupakan sumber daya perikanan penting, terutama dalam fauna bathypelagis samudra terbuka : Synodontidae (= Synodidae) mencakup 4 genus dengan 34 spesies di antaranya (misal Saurida, Trachinocephalus) melimpah di Samudra Hindia, Pasifik dan Atlantik; Harpodontidae mencakup satu genus (Harpodon) dengan 3 spesies yang melimpah di perairan agak payau di Indo-Pasifik di mana mereka dikenal sebagai “Bombay duck”; terakhir, satu di antara tiga genus dari famili Chlorophthalmidae, atau ikan mata hijau, mungkin melimpah di daerah paparan benua yang dalam di ketiga samudra tropis.

Perubahan Distribusi Ikan Demersal Jaman Dulu dan Sekarang
Longhurst dan Pauly (1987), dengan mengulas beberapa literatur mengenai komposisi umum fauna invertebrata bentik dan ikan penghuni Laut Tethy jaman purba, menyatakan bahwa laut ini kaya akan spesies yang bersifat tropis. Pada awal jaman Tersier, fauna Atlantik-Mediterania barat yang merupakan bagian dari Laut Tethy sangat mirip dengan fauna yang ada di Indo-Pasifik barat. Banyak genus coelenterata, juga kerang, krustasea, echinodermata dan ikan yang terdapat di daerah Atlantik timur sekarang hanya dijumpai di Indo-Pasifik barat. Sebagai contoh, dari 154 spesies ikan yang ditemukan dalam hamparan fosil di Italia yang menghadap ke tropis, setengahnya sekarang hanya ada di Indo-Pasifik barat, 15 %-nya merupakan nenek moyang spesies Mediterania modern, dan sisanya 35 % merupakan spesies-spesies ikan Atlantik tropis modern. Bukti-bukti fosil seperti ini sangat berguna untuk memahami distribusi sumberdaya perikanan modern karena mereka menceritakan kepada kita (sebagai contoh) bahwa Leiognathidae (famili ikan pepetek), yang merupakan penyumbang penting hasil tangkapan ikan Pasifik barat tetapi sekarang tidak dijumpai di Atlantik, dulu menghuni Samudra Pasifik maupun Atlantik selama jaman Miocene.

Perbedaan Kelimpahan Ikan Demersal Antara Siang - Malam dan Antar Musim
Lee dan Kim (1992) mempelajari variasi harian dan musiman kelimpahan dan komposisi spesies ikan demersal di Teluk Asan, Korea, dengan menggunakan sampel musiman yang dikumpulkan oleh sebuah otter trawl dari musim gugur 1989 sampai musim panas 1990. Untuk setiap periode sampling, dilakukan tiga sampai lima tarikan trawl guna memperoleh sampel siang dan sampel malam. Dari 32 spesies yang diidentifikasi, Chaturichthys stigmatias, Cynoglossus joyneri, Thrissa koreana, Repomucenus lunatus dan Hexagrammos otakii menyusun 79,5 % dari sampel individual, sedangkan Cynoglossus joyneri, Thrissa koreana, Hexagrammos otakii, Raja kenojei dan Kareius bicoloratus menyumbangkan 67,1 % biomas yang diperoleh. Tampaknya, jumlah individu yang lebih banyak dan biomas yang lebih besar dikumpulkan pada malam hari. Bagaimanapun, tidak ada perbedaan nyata antara sampel siang dan sampel malam dalam hal struktur komunitas, rata-rata kelimpahan dan panjang badan spesies ikan demersal dominan. Jumlah ikan terbanyak dan biomas terbesar diperoleh pada musim panas dan paling rendah pada musim dingin. Kelimpahan ikan di daerah penelitian tergantung pada faktor musim seperti suhu.

Pengaruh Hidup Menetap Terhadap Pertumbuhan Ikan Demersal
Lou (1993) mempelajari pengaruh hidup demersal terhadap pertumbuhan ikan pada juvenil Scarus rivulatus (Valenciennes) dan Ctenochaetus binotatus (Randall) yang menghuni terumbu karang di lepas pantai Pulau Lizard di utara Great Barrier Reef, Australia. Pertumbuhan ikan Scarus rivulatus meningkat setelah hidup menetap (settlement) sedangkan pertumbuhan Ctenochaetus binotatus menurun setelah hidup menetap. Diperkirakan bahwa Scarus rivulatus mulai hidup menetap pada umur 28 – 47 hari, sedang Ctenochaetus binotatus pada umur 47 – 74 hari.

Perbedaan Karakteristik Darah Ikan Demersal dan Pelagis
Techilina (1992) mempelajari karakteristik morfologis darah 16 spesies ikan laut pelagis, bentopelagis dan ikan demersal. Pola perbedaan karakteristik darah bisa diamati, misalnya, jumlah eritrosit (sel darah merah) dan kadar hemoglobin yang lebih rendah pada ikan demersal yang aktivitas geraknya rendah. Ikan pelagis dengan tingkat metabolisme tinggi memiliki jumlah eritrosit yang lebih banyak dan kadar haemolgobin lebih tinggi. Ada korelasi negatif antara jumlah eritrosit dan leukosit (sel darah putih).

Daftar Pustaka :

ARTIKEL TERKAIT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar