Contribution to Fisheries Advances

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan perikanan di tanah air.
Non aktifkan Ad Block dan aplikasi sejenisnya agar iklan - sumber dana blog ini - bisa tampil.

Mohon maaf bila iklan mengganggu kenyamanan Anda.

Terima kasih atas kunjungan dan dukungan Anda

Donasi bisa dilakukan dg belanja di Toko One melalui link di blog ini

Senin, 27 Maret 2017

Pencemaran Perairan Pesisir

Arsip Cofa No. A 057
donasi dg belanja di Toko One

Bahan Organik dan Limbah Industri Sebagai Polutan

Bahan organik meliputi satu kelompok besar yang secara kasar dibagi menjadi (1) bahan organik dapat-larut, yang mengalami oksidasi biologi dan cenderung menurunkan konsentrasi oksigen yang tersedia bagi organisme air, dan (2) bahan organik yang tidak mengalami oksidasi biologis dan merupakan penyebab khusus timbulnya bau, warna, buih, keracunan langsung, dan, mungkin, efek karsinogenik.

Baca juga Dampak Negatif Pestisida Bagi Perairan Pesisir

Seperti halnya kebanyakan bahan kimia lain, daya racun senyawa organik bervariasi, dan pengaruhnya terhadap lingkungan tergantung pada ketersediaan (kosentrasi)-nya. Di wilayah pesisir, di mana logam-logam trace elemen yang berasal dari alam maupun dari manusia dibawa air limpasan hingga berkumpul di sini; interaksi antara bahan organik dan logam-logam mungkin juga mempengaruhi daya racunnya. Dari 21 sumber pencemaran, sistem selokan perkotaan merupakan pembunuh utama ikan pada tahun 1971. Dari 74 ikan yang mati, kegiatan pertanian bertanggung jawab terhadap 1 juta, industri 4,6 juta, perkotaan 24,8 juta, transportasi 0,7 juta, lain-lain 7,3 juta dan tak diketahui 35,3 juta.

Industri kimia sangat luas dan secara umum dapat dipecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menghasilkan bahan kimia dasar seperti bahan kimia anorganik, asam, alkali dan garam. Kelompok kedua memproduksi bahan kimia intermediet seperti plastik, karet sintetis, lemak dan minyak. Kelompok ketiga memproduksi bahan kimia akhir seperti obat, kosmetik, sabun dan pestisida. Jelas bahwa setiap industri menghasilkan limbah cair beracun yang khas bagi industri tersebut atau juga bagi industri lainnya. Toksisitas suatu racun atau sekelompok racun sangat bervariasi dan tergantung pada banyak faktor. Setiap industri menghasilkan limbah cair yang memiliki pengaruh potensial ataupun pengaruh nyata terhadap komunitas biota tertentu yang menerima limbah tersebut.

Limbah Pulp dan Kertas

Industri pulp dan kertas berpotensi dalam menyumbangkan berbagai bahan kimia ke daerah pesisir. Jenis dan jumlah racun bervariasi sesuai degan proses yang dialaminya. Selain limbah padat dan karbohidrat, yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen sampai ke tingkat racun, logam-logam berat yang digunakan sebagai fungisida, asam dan basa yang dipakai untuk mengolah pulp (bubur kayu), klorin yang dipakai dalam proses pemutihan, serta bahan kimia lain ditemukan juga di dalam limbah industri ini. Yang mengkhawatirkan adalah bahwa dari 1,9 trilyun galon air limbah yang dibuang setiap tahun oleh pabrik kertas, hanya 34 % yang diolah untuk mengurangi pengaruhnya terhadap perairan yang menerima limbah tersebut.

Baca juga Kondisi Logam-Logam Berat di Perairan Pesisir

Limbah Industri Minyak

Industri minyak menghasilkan minyak dan padatan berlapis minyak. Selain itu, metode elektrik untuk menurunkan kadar garam secara kasar akan menghasilkan air limbah yang mengandung sulfida, padatan tersuspensi, fenol dan amonia – semua bahan ini umumnya terdapat pada suhu tinggi. Fraksionasi minyak kasar menghasilkan sulfida, klorida dan fenol. Proses pemecahan termal, proses hydrotreat (perlakuan dengan air), dan proses lain menghasilkan air limbah yang mengandung fenol, minyak, senyawa sulfur, amonia dan emulsi minyak yang stabil.

Pencemaran Oleh Industri Pertambangan dan Industri Baja

Tergantung pada jaraknya terhadap wilayah pesisir atau besarnya sungai yang mengalir melaluinya, penambangan permukaan tanah dapat memberikan sumbangan yang penting bagi pencemaran estuaria. Beberapa kegiatan memberi sumbangan yang lebih penting daripada kegiatan lainnya. Sebagai contoh, Bureau of Mines menduga bahwa selama periode tahun 1960 – 1963 lebih banyak limbah padat yang dihasilkan pada penambangan tembaga di Amerika Serikat daripada total material yang dihasilkan oleh berbagai jenis penambangan logam lainnya. Tipe pencemaran yang paling parah yang dihasilkan oleh penambangan permukaan tanah adalah buangan tambang asam. Hal ini paling sering terjadi pada industri batu bara di mana batu bara yang mengandung sulfur bercampur dengan air limpasan menghasilkan asam sulfat yang bersifat racun. Garam-garam logam tambang seperti seng , timah hitam, tembaga dan aluminium merupakan bentuk racun lain dan sangat berbahaya bagi biota air meskipun racun ini terdapat dalam jumlah kecil. Kategori lain meliputi debu besi berwarna kuning atau merah kotor yang berasal dari pertambangan logam atau batu bara.

Industri baja memperparah masalah air limbah; industri ini membuang limbah sebanyak 10.000 sampai 25.000 galon per menit. Limbah industri ini yang dihanyutkan air meliputi padatan tersuspensi, minyak, limbah panas, asam, larutan besi, bahan organik terlarut, logam dapat-larut, emulsi dan bahan kimia ampas batu bara.

Ads (klik gambar untuk informasi lebih detil) :
Stun Gun Type 800 / Stungun / Alat Kejut Listrik Plus Senter dan Charge

Komposisi Limbah Nuklir

Racun yang secara aktual atau potensial berkaitan dengan operasi dan perawatan instalasi tenaga nuklir serta struktur menara pendingin meliputi : asam, akrolein, senyawa arsenik, amonia dan amin, boron, karbonat, klorin dan bromin, fenol berklorin dan/atau berfenil, kromat, sianurat dan sianida, senyawa hidrazin, hidroksida, logam dan garam-garam logam, nitrat dan nitrit, senyawa kalium, fosfat, silikat, sulfat, sulfida dan fluorida. Dampak klorin tidak boleh diperkirakan secara dugaan-kurang (under-estimation), terutama bila bahan ini ditemukan bersama-sama dengan senyawa amin dan senyawa lain yang dapat bereaksi membentuk senyawa turunan klorida yang berumur lebih panjang dan/atau lebih bersifat racun.

Efek Sinergis Antar Limbah

Kombinasi berbagai racun telah diuji pengaruhnya terhadap biota-biota pesisir, yang lebih banyak menghasilkan efek tambahan. Efek “sinergetik” (saling memperkuat) ini terlihat pada berbagai kombinasi logam-logam berat dan pada kombinasi tekanan-suhu-oksigen serta keracunan logam merkuri. Ada banyak efek sinergetik semacam ini, yang melibatkan kombinasi pestisida, deterjen, logam berat PCB, air limbah selokan dan limbah pabrik kertas, produk pabrik minyak, bahan radioaktif, limbah panas, serta kegiatan pengerukan-dan-penimbunan.

Baca juga Logam Berat Dalam Jaringan Tubuh Ikan

Upaya Mengolah Limbah Sebelum Memasuki Perairan Pesisir

Pembuangan DDT, PCB, herbisida dan limbah makanan sebenarnya merupakan masalah teknologis. Klorinolisis merupakan perlakuan kimia yang dilaporkan sangat berhasil dalam mengubah racun yang semula tak berharga menjadi karbon tetraklorida dalam jumlah besar dan memikiki nilai ekonomi tinggi.

Industri pulp dan kertas di Amerika Serikat memproduksi sekitar 60 juta ton per tahun. Biaya produksi yang dihitung berdasarkan air dan udara yang dipakai telah ditentukan melalui pendugaan, dan selama ini diusulkann untuk melakukan penghematan. Ada banyak cara untuk memanfaatkan limbah industri pulp dan kertas daripada membuang limbah tersebut ke wilayah pesisir atau perairan lainnya.

Informasi telah tersedia bagi administrator yang bertanggung jawab dalam mengontrol kualitas air. Yang menarik dalam manajemen pembuangn limbah air adalah publikasi yang dikeluarkan oleh Department of Army Corps of Engineer, yang memperkirakan keefektivan dan efek berbagai metode pembuangan limbah. Yang sangat membantu manajemen limbah di wilayah pesisir adalah publikasi yang dikeluarkan oleh National Academy of Sciences dan National Academy of Engineering. Ada laporan mengenai pembuangan limbah padat beracun yang menyediakan informasi tentang sejumlah masalah, mencakup cara yang tepat untuk menangani lumpur limbah dan pra-perlakuan untuk limbah padat beracun.

Meskipun teknologi daur ulang dan pengolahan limbah industri dan perkotaan akhir-akhir ini bertambah maju namun sangat sedikit pembuat keputusan yang menyadari atau berani menerapkan teknologi baru tersebut.

Pada tahun 1956 kota Miami mendirikan sebuah instalasi pengolah limbah yang mengolah 30 - 50 juta galon limbah per hari sebelum dibuang ke Teluk Biscayne Utara. Penelitan yang bertujuan mengetahui pengaruh biologis polusi limbah tersebut menunjukkan adanya perubahan penting yang membuktikan bahwa pengaruh limbah tersebut berkurang. Komunitas biologi dasar-lunak (lumpur) kurang terpengaruh oleh limbah ini daripada komunitas dasar-keras, di mana pengaruh limbah terhadap komunitas yang terakhir ini telah jauh berkurang.

REFERENSI :
ARTIKEL TERKAIT

loading...